sitra.my.id

NB: Blog ini berisi opini pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi tempat saya bekerja.

  • Beranda
  • Kalkulator Jadwal Tender
Home Archive for April 2022



Ketika masuk SMK, aku tahu tidak akan ada kesempatan untukku menempuh pendidikan di perguruan tinggi di kemudian hari. Keluarga besar tidak ada yang pernah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, kecuali satu yang telah merantau ke luar kota, membuat informasi perkuliahan jauh dari jangkauan. Selain itu, berita yang datang dari sekolah lebih banyak tentang pekerjaan--ya tentu saja proyeksi SMK memang bekerja. Lalu, di tahun 2009, belum banyak informasi di internet yang betebaran seperti sekarang--bisa jadi juga karena aku tidak tahu bagaimana cara mencarinya. Namun, aku sungguh ingin melanjutkan pendidikan meski, selain karena hal-hal yang tampak seperti alasan di atas, alm. ibu telah berpesan bahwa beliau --yang orang tua tunggal-- tak sanggup membiayai studi perguruan tinggiku. Maka, yang kutahu kala itu hanya bekerja setamat SMK kemudian melanjutkan pendidikan. Bagaimanapun jalannya.

Tahun ini, sepupuku, yang kurang lebih memiliki kondisi serupa denganku tigabelas tahun silam, telah lulus dari SMA dan ia sebetulnya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tetapi keadaan membuatnya menutup keinginan itu rapat-rapat dan menyimpannya jauh di tempat yang aku tak tahu. Ia mengatakan keinginan itu saat aku datang kepadanya tahun lalu. Dan itu membuat gadis remaja di dalam tubuhku menggeliat. Ia bangun dan menuntutku menghadirkan perasaan-perasaan yang dulu ia lewatkan. Maka, aku --dan gadis remaja di tubuhku-- menawarkan dukungan kepadanya semampuku: informasi, waktu, tenaga, dan apapun.

Sekarang, sepupuku dalam masa persiapan menghadapi SBMPTN pada jurusan dan univertas yang dia pilih. Seperti yang kau duga bahwa tak hanya dia yang gelisah sekaligus bergairah, gadis di dalam tubuhku juga. Gadis di dalam tubuhku itu kini sedang mengisi lubang-lubang menganga di dalam perasaannya.

Perasaan-perasaan itu menjalar ke seluruh tubuhku. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua-muanya melangitkan harapan. Semoga Tuhan berbaik hati, membiarkan satu tempat duduk itu menjadi miliknya--demi kelanjutan hidup seorang anak manusia dan kedamaian gadis remaja yang bersemayam di dalam tubuhku.



 "Hidup kita adalah perjalanan yang konstan, dari lahir hingga mati. Lansekap berubah, orang-orang berubah, kebutuhan kita berubah, tetapi kereta terus bergerak. Hidup adalah kereta, bukan stasiun."

--- Paulo Coelho

Jika hidup adalah kereta, maka milikku tampaknya adalah kereta yang kerap berganti rute. Aku lahir di Malang dan mendewasa di sana. Selepas SMK, tiga belas tahun yang lalu, aku pindah dan menetap di Denpasar untuk kuliah dan kemudian bekerja --hingga tahun 2017. Kemudian, demi nama cinta, aku pindah dan menetap di Sidoarjo hingga awal tahun ini. Dan sekarang, aku pindah (lagi) dan (semoga akan) menetap di Caruban, sebuah kecamatan di Kabupaten Madiun.

Jika sebuah kereta seharusnya mengangkut hal-hal baik dan berguna bagi sekitar, maka sepertinya aku tidak begitu. Sepanjang persinggahan di Denpasar, aku tidak melakukan apapun. Kereta itu hanya membawaku lewat, menjemput ijazah, mengantar bertualang di dunia kerja: dan kubayangkan ia sangat bising di telinga orang lain.

Di Sidoarjo, kereta ini lebih kerap mengajakku ke tempat-tempat sepi yang membawaku kepada permenungan. Untuk apa jika hanya sekadar lewat dan bising? Maka, untuk segala yang kulakukan di sana, kuputuskan untuk mengubah tujuan: setidaknya pada niat di dalam dada. Demi nama cinta, kepada mbak-mbak yang harus bekerja menghidupi keluarga mereka, aku mengasuh anak-anak goodiebagid, dan tentu saja kali ini keretaku memiliki penumpang lain. Iya, suamiku. Dialah yang membuat kereta ini makin tahu arah dan jauh dari limbung. Terkhusus baginya, terima kasih telah bersedia mengendalikan laju kereta ini dan berjalan bersamaku.

Hari ini, kereta telah singgah di Caruban. Sebelum peluit dibunyi, aku dan suamiku telah menyusun rencana-rencana pada tiap gerbong kereta agar bisa mengangkut hal-hal berguna. Setidaknya begitulah harapan kami. Kami tidak ingin gegabah, kami perlu menyapa dan bertanya, apa yang paling berguna yang bisa kami jadikan muatan. Hari ini hari ketujuh dan masih belum jumpa apa-apa dan kami bersabar. Semoga semua juga sama sabarnya. Kereta ini tak mengapa jalan pelan yang penting sampai tujuan. Semoga.

Lagipula, kami tak pernah tahu, kemana lagi kereta ini akan singgah. :)
Langganan: Komentar ( Atom )

LATEST POSTS

  • Kiat-Kiat Belajar untuk Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Level-1
      Bulan lalu saya mengikuti ujian sertifikasi kompetensi PBJP Level-1 dan lulus dengan nilai yang memuaskan, meski tentu saja banyak yang me...
  • Mengelola Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara Swakelola
    Selain melalui Penyedia, pengadaan barang/jasa pemerintah juga dapat dilakukan secara Swakelola. Definisi swakelola menurut Perpres No. 20 T...

Categories

  • Belajar PBJ
  • Cerita yang Singgah

Blog Archive

  • ►  2026 (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  April (1)
  • ▼  2022 (12)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ▼  April (2)
      • Gadis Remaja di Dalam Tubuhku
      • Kereta dan Persinggahan
Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2014 sitra.my.id.
Designed by OddThemes